Hijrah itu tak selalu berhubungan dengan agama, hijrah itu pindah, dari kota satu ke kota lainnya itu pula disebut berhijrah, namun zaman sekarang ini makna hijrah sudah semakin bergeser, hijrah identik dengan perubahan seseorang dari yang kurang mengetahui agama menjadi orang yang taat beragama. Tapi kalo menurut gue kedua hal itu memang ada hubungannya. Apasih suatu hal yang bisa menandakan seseorang itu dianggap berhijrah.
Hijrah itu beradaptasi, kenapa beradaptasi?, Karena kita harus menyesuaikan sesuatu yang bukan kita banget gitu. Misal lo anak kota trus lo hijrah ke desa, pasti lo akan ngerasain yang namanya cultural lag, atau perbedaan kebudayaan atau kebiasaan dari masyarakat kota ke masyarakat desa. Sama aja kaya kita sebelumnya gak pernah sholat kemudian kita dapat hidayah untuk menunaikan sholat, pastinya dalam tahap awal kita belum terbiasa dengan hal itu, bukan cuma masalah semangatnya saja, tata caranya saja kita masih harus belajar dulu. Balik lagi ke desa, awal-awal lo tinggal di desa pasti lo akan tersesat juga, karena itu adalah tempat baru buat lo, satu dua kali lo akan bertanya sama orang lokal buat nunjukin lo jalan. Sama kaya belajar agama, lo gabisa belajar sendiri atau otodidak, pasti ada saatnya ketika litelatur tidak bisa menjawab apa yang ada dipikiran lo, lo harus bertanya sama orang yang lebih ahli dibidang agama. Makanya ada slengekan belajar tanpa guru itu ibarat belajar dengan setan, bukan ditunjukin ke jalan yang benar, lo malah disesatin nantinya.
Hidup di desa bukan cuman masalah jalan saja yang gelap, kita harus menguasai skill yang tidak biasa dilakukan di kota, misalnya aja lo harus bisa menimba air, lo harus harus manjat pohon, belajar berenang di sungai, dll sesuai kondisi. Sama juga, setelah lo belajar ilmu agama yang masih awam buat lo, lo akan tahu ada banyak amalan selain sholat, ada namanya zakat, sedekah, membaca quran, berdakwah, dan lo juga harus mulai terbiasa dengan hal-hal semacam itu, dan masing2 ada ilmunya sendiri-sendiri.
Lalu masyarakat desa itu sosialis biasanya orangnya, makanya buat lo bisa bertahan tinggal di desa lo juga harus punya yang namanya temen, temen yang bisa ngajarin elo, bukan temen yang nyesatin elo, kalo lo punya temen yang jago benerang, lo bisa belajar sama dia cara berenang yang baik, dan suatu saat ketika lo tenggelam saat belajar berenang, lo akan ditarik keatas sama temen lo itu, sama juga kaya belajar agama lo harus punya temen yang bisa nunjukin lo ke jalan yang baik, yang bisa ngajarin lo ilmu-ilmu tentang agama, dan lo harus pegang kuat-kuat tangan temen lo itu, karena jika suatu saat lo berbelok pada jalan kemungkaran, lo akan tarik sama temen lo, dan lo bakan bersyukur punya temen seperti dia.
Kalo lo udah bisa beradaptasi dengan lingkungan desa, lo akan terbiasa hidup dilingkungan itu, mau berapa lamanyapun elo tinggal, elo gaakan mikir untuk bunuh diri, kalo lo udah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, maka lo akan enjoy menikmati hidup lo, pasti akan banyak juga cobaan yang datang entah itu dari dalam diri sendir ataupun dari luar diri sendiri tapi selama lo yakin lo di jalan yang benar lo gausah takut, inget lo punya Allah.
Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allâh dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.” [At-Taubah/9:55]
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
Cerita selain quran dan hadist di atas merupakan murni opini gue, dan bukan untuk menyinggung pihak tertentu, mohon maaf kalo ada kata2 yang kurang berkenan, ciao
Tidak ada komentar:
Posting Komentar